Cara Menuliskan State of the Art yang Benar

Menulis bagian State of the Art bukan sekadar menumpuk kutipan dari jurnal-jurnal terbaru. Banyak mahasiswa menyangka bahwa semakin banyak artikel yang dicantumkan, maka semakin bagus. Padahal, bukan jumlah kutipan yang penting, melainkan bagaimana kamu menyusun peta perkembangan riset dan menunjukkan posisi risetmu di antara penelitian yang sudah ada.

Secara sederhana, state of the art adalah gambaran utuh tentang apa saja yang sudah dilakukan para peneliti lain dalam bidang yang kamu teliti. Bagian ini menjadi bukti bahwa kamu memahami medan ilmiah tempat risetmu berdiri. Dalam state of the art, kamu menyampaikan: “Inilah yang sudah diteliti, inilah kekurangannya, dan inilah mengapa riset saya penting.”

Jadi, bagaimana cara menuliskannya dengan baik?

1. Tentukan fokus yang jelas

Sebelum menulis, tentukan batasan topik. Misalnya, jika kamu meneliti “segmentasi citra luka diabetes menggunakan deep learning ringan”, maka kamu tidak perlu mengulas semua tentang CNN atau semua tentang luka diabetes. Cukup bahas perkembangan model segmentasi ringan dalam konteks tersebut.

2. Sajikan secara kronologis atau tematis

Kamu bisa menulis secara kronologis (berdasarkan waktu publikasi), atau tematis (berdasarkan pendekatan atau metode). Tematis lebih disukai karena memudahkan pembaca memahami perbandingan.

Contoh tematis:

  • Penelitian dengan CNN
  • Penelitian dengan Transformer
  • Penelitian dengan model lightweight
  • Penelitian dengan fuzzy activation

3. Gunakan pola berpikir kritis dan analitis

Jangan hanya menulis “Penelitian A menggunakan metode X dan mendapatkan hasil Y.” Tambahkan penilaian: apa kelebihan dan keterbatasannya? Adakah celah yang belum ditangani? Adakah peluang untuk perbaikan?

4. Hubungkan antar penelitian

Cobalah menunjukkan bagaimana satu studi melanjutkan atau memperbaiki studi sebelumnya. Ini menunjukkan kamu tidak hanya membaca, tapi juga memahami alur perkembangan riset.

5. Akhiri dengan mengarahkan ke research gap

Setelah menyajikan peta penelitian, tutup bagian state of the art dengan menyebutkan secara eksplisit bahwa masih ada kekosongan yang belum ditangani — yang akan kamu isi melalui risetmu. Di sinilah kamu mulai menyambungkan ke bagian research gap.

Contoh Penulisan State of the Art (Topik: Segmentasi Citra Luka Diabetes)

Berikut contoh narasi state of the art:

Penelitian mengenai segmentasi citra luka diabetes telah berkembang pesat dalam satu dekade terakhir. Sebagian besar studi awal menggunakan arsitektur berbasis CNN konvensional seperti U-Net (Ronneberger et al., 2015), yang terbukti efektif dalam memetakan area luka. Namun, model ini memiliki keterbatasan dalam hal ukuran dan waktu inferensi, terutama ketika diimplementasikan pada perangkat dengan sumber daya terbatas.

Beberapa penelitian lanjutan mencoba mengatasi hal ini dengan mengadopsi model lightweight seperti Mobile U-Net (Ali et al., 2020) dan EfficientSeg (Zhang et al., 2021). Meski berhasil mengurangi beban komputasi, penurunan performa segmentasi masih menjadi tantangan. Di sisi lain, pendekatan berbasis Transformer mulai digunakan untuk menangkap konteks global, namun model semacam TransUNet (Chen et al., 2021) memiliki parameter yang besar dan kurang sesuai untuk deployment edge devices.

Sementara itu, studi terbaru mulai mengeksplorasi pendekatan fuzzy logic untuk meningkatkan sensitivitas terhadap tepi luka, seperti yang dilakukan oleh Lee et al. (2022), namun penelitian tersebut masih terbatas pada dataset kecil dan belum diuji pada lingkungan nyata.

Dari berbagai penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa masih diperlukan model segmentasi yang tidak hanya ringan dan akurat, tetapi juga mampu mempertahankan sensitivitas terhadap detail luka, terutama pada perangkat dengan kemampuan terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini mengusulkan pendekatan baru yang menggabungkan arsitektur Mobile U-Net dengan fuzzy activation dan lightweight transformer untuk mencapai efisiensi dan akurasi optimal dalam segmentasi citra luka diabetes.

Tips tambahan:

  • Gunakan 8–15 referensi yang benar-benar relevan dan terbaru (5 tahun terakhir).
  • Gunakan bahasa analitis seperti: “namun demikian”, “meskipun begitu”, “keterbatasan ini”, “masih menjadi tantangan”, “belum ditangani”, dan sejenisnya.
  • Jika memungkinkan, buatkan diagram atau tabel ringkasan perbandingan antar metode.

Leave a Comment