Bagi banyak mahasiswa pascasarjana, terutama yang sedang menyiapkan tesis atau disertasi, mencari topik riset yang “berbeda” adalah tantangan tersendiri. Kamu mungkin sudah membaca banyak jurnal, mengikuti kuliah metode penelitian, dan bahkan berdiskusi dengan dosen pembimbing. Tapi tetap saja, muncul pertanyaan: “Apa yang belum diteliti?” atau “Apa yang bisa saya angkat sebagai sesuatu yang baru?” Itulah yang disebut dengan research gap.
Research gap secara sederhana berarti celah yang belum diisi oleh penelitian sebelumnya. Bukan berarti tidak ada yang meneliti topik tersebut sama sekali, tetapi ada aspek, konteks, pendekatan, atau sudut pandang tertentu yang belum disentuh. Menemukan celah ini bukan hanya penting untuk memperkuat proposalmu, tetapi juga menunjukkan bahwa risetmu memang layak untuk dilakukan.
Langkah pertama untuk mencari research gap adalah dengan memulai dari minat pribadi. Topik yang kamu sukai akan membuat proses riset terasa lebih ringan. Jangan terburu-buru mempersempit topik. Cukup mulai dari satu bidang umum dulu, misalnya kecerdasan buatan, pendidikan karakter, atau hukum digital.
Setelah itu, cari dan kumpulkan artikel ilmiah terbaru dari lima tahun terakhir. Kamu bisa menggunakan Scopus, ScienceDirect, atau Google Scholar. Fokuslah membaca bagian pendahuluan dan kesimpulan. Di sanalah biasanya para peneliti menyebutkan keterbatasan studi mereka atau peluang untuk penelitian lanjutan. Dari situ, kamu bisa mencatat pola-pola yang berulang—apakah ada pendekatan yang belum dipakai? Populasi yang belum dikaji? Atau metode yang belum diujicobakan?
Semakin banyak kamu membaca, kamu akan mulai mengenali lubang-lubang kecil di antara tumpukan penelitian. Untuk membantu proses ini, kamu bisa membuat tabel sederhana berisi judul artikel, metode, temuan, dan keterbatasannya. Perlahan, kamu akan melihat benang merahnya: di sinilah letak gap yang bisa kamu garap.
Research gap bukan soal seberapa “keren” idenya, tapi seberapa jelas kamu bisa menjelaskan bahwa penelitianmu memang dibutuhkan. Gap yang baik bersifat spesifik, relevan, dan bisa dijawab secara ilmiah.
Kalau kamu merasa kesulitan atau tidak punya waktu membaca puluhan jurnal, kamu bisa menggunakan bantuan teknologi. Saat ini ada tools yang dapat membantumu menelusuri gap dengan lebih cepat, salah satunya adalah RisetMaster.id. Platform ini membantu mahasiswa S2 dan S3 menemukan topik riset yang bernovelty tinggi, memetakan literature gap, dan bahkan menyediakan panduan menulis proposal secara lengkap. Kamu bisa menghemat banyak waktu dan menghindari stres karena kebingungan menentukan arah riset.
Menemukan research gap adalah soal ketekunan membaca dan keberanian untuk bertanya: “Apa yang belum ada, dan bagaimana saya bisa mengisinya?” Jawaban dari pertanyaan itu bisa menjadi awal dari riset yang bermakna dan berdampak.
Jika kamu sedang dalam tahap awal menyiapkan proposal, temukan gap-mu dengan lebih mudah bersama RisetMaster.id. Karena riset yang kuat dimulai dari pertanyaan yang tepat.

