DOI (Digital Object Identifier) adalah pengidentifikasi permanen untuk objek digital—umumnya artikel jurnal. Dengan DOI, tautan ke artikel tetap bisa diakses meski URL berubah. Artikel ini menjelaskan apa itu DOI, cara mengecek, membedakan dengan URL/ISSN, serta cara menuliskannya di daftar pustaka.
Apa Itu “DOI Jurnal”?
Istilah “DOI jurnal” sering dipakai untuk menyebut DOI artikel jurnal. Secara teknis:
- DOI: kode unik untuk objek digital (artikel, bab buku, data set, prosiding).
- Jurnal sendiri diidentifikasi oleh ISSN, bukan DOI.
- Beberapa penerbit memberi DOI untuk issue atau supplement, tetapi yang paling umum: DOI per artikel.
Mengapa DOI Penting?
- Persisten: tetap bisa diselesaikan (resolved) walau domain/URL berubah.
- Keterlacakan: memudahkan sitasi dan pengindeksan.
- Standar sitasi modern: banyak gaya (APA 7th, Vancouver) menganjurkan format URL DOI.
- Integritas metadata: terhubung ke metadata resmi (judul, penulis, tahun, jurnal).
Struktur DOI
Format umum: 10.PREFIX/SUFFIX
- 10: angka tetap (kode DOI).
- PREFIX: kode organisasi penerbit (mis.
10.1016,10.1109,10.1007). - SUFFIX: ditentukan penerbit (bisa mengandung huruf/angka/tanda).
Contoh:10.1038/nphys1170,10.1109/5.771073.
Cara Cek DOI
- Halaman artikel: biasanya tercantum di header/footer atau area sitasi.
- PDF artikel: lihat halaman pertama atau terakhir.
- Resolver DOI: ketik
https://doi.org/{DOI}di peramban untuk memastikan DOI aktif. - Pencarian metadata (mis. Crossref/DataCite): cari judul/penulis → cocokkan DOI, tahun, jurnal, dan penulisnya.
Tips: DOI tidak sensitif kapital (case-insensitive). Hindari spasi/karakter tambahan saat menyalin.
Cara Mendapatkan DOI (Untuk Pengelola Jurnal)
- Bergabung dengan Registration Agency (mis. Crossref untuk artikel; DataCite untuk data set).
- Bayar biaya keanggotaan & deposit (tahunan + per-record, bervariasi per RA).
- Deposit metadata: kirim metadata artikel (judul, penulis, afiliasi, referensi, dsb.) ke RA.
- Kelola pemutakhiran: pastikan URL target dan metadata selalu terbaru.
- Kepatuhan etika & kualitas: DOI bukan jaminan “terindeks Scopus,” tapi sinyal praktik penerbitan yang lebih rapi.
DOI vs URL vs ISSN/ISBN
| Identifikasi | Cocok Untuk | Bentuk | Stabilitas | Siapa yang Menerbitkan |
|---|---|---|---|---|
| DOI | Artikel, bab, data, prosiding | 10.xxxx/xxxxx (diakses via https://doi.org/…) | Tinggi (persisten) | Registration Agency (mis. Crossref, DataCite) |
| URL | Halaman web apa pun | https://domain/... | Rendah–Sedang (bisa berubah) | Pemilik situs |
| ISSN | Judul Jurnal (serial) | 8 digit (mis. 1234-5678) | Stabil | Pusat ISSN |
| ISBN | Buku/Monograf | 10/13 digit | Stabil | Badan ISBN |
Cara Menulis DOI di Daftar Pustaka
Prinsip umum: tulis sebagai URL DOI tanpa “Retrieved from”.
APA 7th (contoh)
Gunakan format: https://doi.org/{DOI}
Author, A. A., & Author, B. B. (2024). Title of article. Journal Title, 10(2), 123–145. https://doi.org/10.1234/abcd.5678
IEEE
Boleh sebagai URL DOI atau “doi:”.
A. A. Author and B. B. Author, “Title,” Journal, vol. 10, no. 2, pp. 123–145, 2024, doi: 10.1234/abcd.5678.
Vancouver/ICMJE
Tambahkan di akhir rujukan sebagai URL DOI.
Author AA, Author BB. Title. Journal. 2024;10(2):123–145. https://doi.org/10.1234/abcd.5678
BibTeX (contoh)
typescriptCopyEdit@article{key2024,
author = {Author, A. A. and Author, B. B.},
title = {Title of Article},
journal = {Journal Title},
year = {2024},
volume = {10},
number = {2},
pages = {123--145},
doi = {10.1234/abcd.5678}
}
Masalah Umum & Solusinya
- DOI tidak resolvable: periksa ejaan, hilangkan spasi, gunakan format
https://doi.org/DOI. - DOI salah/Judul tidak cocok: cek metadata—judul, penulis, jurnal, tahun harus match.
- Menganggap “jurnal harus punya DOI”: yang ber-DOI adalah artikel; jurnal diidentifikasi ISSN.
- Pikir DOI = terindeks Scopus: salah. DOI ≠ indeksasi.
- Menulis “DOI:” tanpa URL (APA 7th): sebaiknya gunakan URL DOI.
Kapan Jurnal Memberi DOI untuk Issue?
- Jika kebijakan penerbit menginginkannya (mis. special issue).
- Tetap, setiap artikel biasanya memiliki DOI unik untuk sitasi yang tepat

