Mendapatkan notifikasi bahwa artikel kita ditolak (rejected) oleh jurnal ilmiah bisa menjadi pengalaman yang mengecewakan, apalagi jika proses penulisan telah memakan waktu dan tenaga. Namun, penolakan adalah bagian wajar dari proses akademik β bahkan peneliti senior pun sering mengalaminya.
Agar tidak mengalami penolakan yang bisa dihindari, penting untuk memahami penyebab umum artikel ditolak oleh jurnal ilmiah berikut ini:
1. Tidak Sesuai Scope atau Fokus Jurnal
Salah satu alasan paling umum adalah artikel tidak sesuai dengan cakupan topik (aims and scope) dari jurnal yang dituju. Misalnya, mengirimkan artikel teknik ke jurnal sosial-humaniora, atau mengirim studi lokal ke jurnal dengan fokus global.
Solusi: Baca dengan saksama fokus jurnal sebelum submit. Sesuaikan topik dan pendekatan dengan bidang yang digeluti jurnal tersebut.
2. Kualitas Tulisan Kurang Baik
Artikel yang ditulis dengan bahasa tidak akademik, struktur tidak sistematis, atau dipenuhi kesalahan tata bahasa akan sulit diterima, meskipun idenya bagus.
Solusi: Gunakan jasa proofreading atau minta bantuan rekan sejawat untuk mengecek bahasa dan alur logika tulisan.
3. Metodologi Lemah atau Tidak Jelas
Reviewer akan menilai apakah metode penelitian sudah valid, relevan, dan dijelaskan dengan baik. Jika metode terlihat sembarangan, tidak terukur, atau tidak dijustifikasi secara akademik, artikel berisiko besar ditolak.
Solusi: Pastikan metodologi dijelaskan secara rinci dan sesuai dengan standar ilmiah yang berlaku.
4. Kurangnya Kebaruan (Novelty)
Jurnal ilmiah mencari kontribusi baru dalam bidang ilmu. Jika artikel hanya mengulang penelitian yang sudah banyak dilakukan, atau tidak memberikan insight baru, maka besar kemungkinan akan ditolak.
Solusi: Jelaskan secara eksplisit kontribusi baru artikel Anda, baik dari sisi pendekatan, data, maupun temuan.
5. Sitasi Tidak Relevan atau Kurang Mutakhir
Menggunakan referensi yang tidak relevan, terlalu usang, atau tidak mencantumkan penelitian terbaru di bidang tersebut bisa menurunkan kualitas artikel.
Solusi: Pastikan referensi berasal dari jurnal bereputasi dan terbaru (5 tahun terakhir), terutama dari jurnal yang terindeks Scopus atau Web of Science.
6. Tidak Mengikuti Template dan Gaya Penulisan
Banyak artikel ditolak langsung (desk reject) hanya karena tidak mengikuti template jurnal, salah dalam format sitasi, atau tidak memenuhi struktur yang diminta.
Solusi: Gunakan template resmi dari jurnal dan baca author guidelines secara menyeluruh sebelum mengirimkan artikel.
7. Plagiarisme dan Duplikasi
Jika artikel mengandung plagiarisme, baik disengaja maupun tidak, atau terindikasi duplikasi dari karya yang sudah terbit, maka akan langsung ditolak.
Solusi: Gunakan software cek plagiarisme (Turnitin, iThenticate) sebelum mengirimkan. Tulis ulang kutipan dengan parafrase yang benar.
8. Kurangnya Argumentasi dan Diskusi
Artikel yang hanya menyajikan data tanpa analisis mendalam, diskusi kritis, atau interpretasi hasil akan dianggap kurang kontribusinya.
Solusi: Perkuat bagian diskusi dengan membandingkan hasil Anda dengan literatur lain, dan bahas implikasinya secara mendalam.
Kesimpulan
Penolakan artikel bukan akhir dari perjalanan akademik, melainkan kesempatan untuk memperbaiki karya ilmiah kita. Dengan memahami alasan umum penolakan, penulis dapat mempersiapkan naskah lebih baik dan meningkatkan peluang diterima di jurnal bereputasi.
Ingin Artikelmu Tidak Ditolak Lagi?
Kami bantu evaluasi naskah sebelum dikirim, melakukan cek kelayakan jurnal, dan revisi sesuai standar reviewer internasional.
π‘ Konsultasi Gratis & eBook Strategi Publikasi tersedia di:
π https://risetmaster.id

