Menemukan novelty (kebaruan) sering kali menjadi momok paling menakutkan bagi mahasiswa S3 atau dosen yang sedang mengejar publikasi di jurnal internasional bereputasi. Masalahnya, editor jurnal Scopus Q1 tidak hanya mencari sesuatu yang “kelihatan baru”, tetapi mereka menuntut kontribusi yang terukur dalam ilmu pengetahuan.
Kali ini, saya akan membagikan teknik kolaborasi antara dua alat canggih: NotebookLM dari Google dan Scopus Query Builder dari Elsevier. Kombinasi ini akan meningkatkan produktivitas riset Anda secara signifikan melalui sistem yang efisien dan semi-otomatis.
Mengapa NotebookLM? (Brainstorming Tanpa Halusinasi)
Berbeda dengan ChatGPT biasa yang terkadang memberikan jawaban “halusinasi”, NotebookLM bekerja berbasis data (base on data). Syarat mutlaknya adalah Anda harus menyuplai data awal terlebih dahulu.
- Tips: Selain artikel PDF, masukkan URL dari platform seperti Medium atau portal berita ilmiah untuk memperkaya sudut pandang riset Anda.
- Kelebihan: Anda bisa melakukan diskusi interaktif (brainstorming) dengan AI untuk membedah data tersebut tanpa takut bias, karena sumber informasinya jelas dan terbatas pada file yang Anda unggah.
Langkah 1: Merumuskan Research Question (RQ)
Gunakan data awal di NotebookLM untuk menemukan tren terbaru. Dari hasil obrolan dengan AI tersebut, susunlah sebuah Research Question. RQ inilah yang akan menjadi fondasi pencarian literatur Anda agar lebih sistematis.
Langkah 2: Eksekusi dengan Scopus Query Builder
Setelah memiliki RQ, saatnya beralih ke Scopus Query Builder (pastikan Anda menggunakan akun institusi yang berbayar).
- Generate Query String: Masukkan RQ Anda ke Query Builder untuk mendapatkan paduan keyword yang presisi.
- Proses Seleksi (Metode PRISMA): Jalankan kriteria inklusi dan eksklusi secara ketat. Filter berdasarkan rentang tahun terbaru, jenis dokumen (artikel), akses terbuka (open access), hingga kata kunci yang paling relevan.
Langkah 3: Screening & Pengumpulan Data Full-Text
Setelah mendapatkan hasil pencarian, lakukan screening pada abstrak yang paling relevan dengan RQ Anda.
- Saran Penting: Jangan hanya mengandalkan abstrak. Untuk mendapatkan State of the Art (SOTA) dan Research Gap yang mendalam, Anda wajib mengunduh PDF Full-Text (minimal 15 artikel atau lebih). Mengandalkan abstrak saja berisiko melewatkan detail metodologi atau diskusi penting yang menjadi celah riset Anda.
Langkah 4: Validasi Novelty di NotebookLM
Unggah semua PDF full-text tersebut ke NotebookLM. Di sinilah “keajaiban” terjadi:
- Analisis Gap: Tanyakan pada AI, “Di mana posisi penelitian terdahulu dan apa celah (gap) yang belum mereka bahas?”.
- Sintesis Data: AI akan membantu Anda mengekstraksi dan menyintesis data dari belasan PDF tersebut secara akurat karena sumbernya jelas.
- Mapping: Anda bisa memetakan posisi ide penelitian Anda dibandingkan literatur yang ada untuk memastikan kontribusinya nyata dan terukur.
AI-Powered, Human-Validated
Teknik ini mempercepat proses penemuan novelty, namun ingatlah bahwa sentuhan manusia tetap mutlak diperlukan untuk validasi akhir.
Jika Anda ingin mendalami teknik ini lebih jauh, RisetMaster.id menyediakan layanan Konsultasi Novelty Penelitian dan pendampingan publikasi ke jurnal Scopus Q1. Anda juga bisa mendapatkan panduan lengkap melalui E-book Premium “The Art of Novelty” yang berisi studi kasus nyata dan tips optimasi Scopus AI serta ChatGPT untuk riset Anda.
Siap menembus Scopus Q1 tahun ini? Mulailah dengan riset yang terukur dan tools yang tepat!
