Ilustrasi peneliti memperbaiki artikel yang ditolak editor jurnal

Artikel Ditolak Editor Jurnal? Ini Langkah yang Sebaiknya Dilakukan

Menerima email penolakan dari editor jurnal tentu bukan pengalaman yang menyenangkan, terutama ketika artikel tersebut telah dikerjakan selama berbulan-bulan. Peneliti mungkin sudah menghabiskan banyak waktu untuk melakukan eksperimen, menganalisis data, membaca puluhan referensi, hingga menyempurnakan manuskrip sebelum dikirimkan ke jurnal internasional.

Sayangnya, tidak semua artikel berhasil melewati tahap seleksi awal editor. Sebagian naskah bahkan ditolak sebelum mendapatkan kesempatan untuk dinilai oleh reviewer.

Dalam publikasi ilmiah, kondisi ini dikenal sebagai desk rejection. Editor memutuskan untuk tidak melanjutkan manuskrip ke proses peer review karena pertimbangan tertentu, seperti ketidaksesuaian ruang lingkup jurnal, kontribusi ilmiah yang belum cukup jelas, atau kelemahan mendasar pada desain penelitian.

Artikel ditolak editor jurnal bukan berarti penelitian tersebut tidak memiliki nilai ilmiah. Penolakan merupakan keputusan editorial terhadap naskah yang diajukan pada jurnal tertentu. Penulis perlu memahami alasan keputusan tersebut sebelum menentukan langkah berikutnya.

Lantas, apa yang sebaiknya dilakukan ketika artikel ditolak editor jurnal?

Mengapa Artikel Bisa Ditolak Editor Sebelum Masuk Reviewer?

Banyak penulis beranggapan bahwa artikel yang memiliki metode lengkap, hasil eksperimen, dan referensi terbaru sudah cukup untuk melewati seleksi awal jurnal.

Kenyataannya, editor tidak hanya memeriksa kelengkapan penelitian. Editor juga mempertimbangkan kesesuaian manuskrip dengan fokus jurnal, relevansi bagi pembaca, kontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, serta standar kualitas dan kebijakan editorial.

Beberapa alasan yang dapat menyebabkan artikel mengalami desk rejection antara lain:

  1. Novelty penelitian belum jelas. Penulis belum berhasil menjelaskan kontribusi baru yang membedakan penelitian dari publikasi sebelumnya.
  2. Artikel tidak sesuai dengan scope jurnal. Topik penelitian mungkin relevan secara ilmiah, tetapi tidak sesuai dengan prioritas atau pembaca jurnal yang dituju.
  3. Research gap terlalu umum. Pendahuluan menjelaskan pentingnya suatu topik tanpa menunjukkan persoalan ilmiah spesifik yang belum terselesaikan.
  4. Metodologi belum meyakinkan. Rancangan penelitian, pemilihan dataset, eksperimen, atau metode validasi belum cukup mendukung klaim penelitian.
  5. Kontribusi tidak sebanding dengan klaim. Penulis mengemukakan klaim inovasi yang terlalu besar dibandingkan dengan bukti empiris yang tersedia.
  6. Kualitas penyajian manuskrip kurang memadai. Struktur artikel, bahasa akademik, gambar, tabel, atau kepatuhan terhadap pedoman penulis masih memerlukan perbaikan.
  7. Pertimbangan prioritas editorial. Editor dapat menolak artikel yang secara teknis cukup baik karena keterbatasan ruang, tingkat selektivitas, atau prioritas penerbitan.

Alasan terakhir perlu dipahami dengan baik. Penolakan tidak selalu menunjukkan adanya kesalahan atau kelemahan substantif pada penelitian.

7 Langkah yang Sebaiknya Dilakukan Setelah Artikel Ditolak Editor

1. Baca Kembali Surat Penolakan Editor secara Menyeluruh

Kesalahan yang sering dilakukan penulis setelah menerima keputusan reject adalah langsung mencari jurnal lain tanpa mengevaluasi isi surat penolakan.

Padahal, surat keputusan editor dapat memberikan petunjuk penting mengenai kelemahan naskah.

Perhatikan istilah yang digunakan editor, seperti:

  • Insufficient novelty, yang menunjukkan bahwa kebaruan penelitian dinilai belum memadai.
  • Limited contribution, yang mengindikasikan bahwa kontribusi artikel dianggap belum cukup signifikan.
  • Out of scope, yang menunjukkan ketidaksesuaian dengan fokus jurnal.
  • Lack of methodological rigor, yang berkaitan dengan ketelitian atau kekuatan metodologi.
  • Not suitable for our readership, yang menunjukkan bahwa artikel dinilai kurang sesuai dengan kebutuhan pembaca jurnal.

Perlu diperhatikan bahwa istilah-istilah tersebut tidak selalu digunakan secara konsisten oleh setiap editor. Penulis sebaiknya membaca keseluruhan surat keputusan dan menghindari penafsiran berdasarkan satu kalimat saja.

Apabila editor memberikan komentar spesifik, gunakan komentar tersebut sebagai dasar untuk menentukan prioritas revisi.

2. Jangan Langsung Mengirim Artikel yang Sama ke Jurnal Lain

Setelah menerima penolakan, penulis sering tergoda untuk segera melakukan submission ulang ke jurnal yang berbeda.

Secara administratif, pengiriman ke jurnal lain umumnya dapat dilakukan setelah keputusan penolakan sebelumnya bersifat final dan tidak ada proses aktif yang masih berjalan. Akan tetapi, mengirim kembali manuskrip tanpa evaluasi dapat menyebabkan kelemahan yang sama kembali ditemukan.

Sebelum melakukan submission berikutnya, periksa tiga komponen utama:

Pertama, kesesuaian artikel dengan target jurnal. Apakah topik, pendekatan metodologis, dan kontribusi penelitian sesuai dengan artikel yang biasa diterbitkan oleh jurnal tersebut?

Kedua, kekuatan novelty penelitian. Apakah penulis mampu menjelaskan kontribusi baru secara spesifik dan berdasarkan perbandingan dengan penelitian terdahulu?

Ketiga, kesiapan manuskrip. Apakah abstrak, pendahuluan, metodologi, hasil, dan pembahasan telah membangun argumentasi ilmiah yang konsisten?

Melakukan evaluasi terhadap ketiga komponen tersebut dapat membantu penulis menentukan apakah artikel cukup diperbaiki atau membutuhkan perubahan yang lebih mendasar.

3. Evaluasi Novelty dan Kontribusi Ilmiah Artikel

Salah satu alasan penolakan yang perlu mendapat perhatian khusus adalah kontribusi ilmiah yang dianggap belum memadai.

Dalam beberapa bidang, penggunaan metode yang lebih baru atau pencapaian akurasi yang lebih tinggi belum tentu cukup untuk membuktikan novelty.

Sebagai contoh, seorang peneliti mengembangkan model deep learning untuk klasifikasi penyakit dan memperoleh akurasi 97%. Hasil tersebut mungkin terlihat menjanjikan, tetapi editor masih dapat mempertanyakan:

  • Apa keterbatasan pendekatan sebelumnya yang berhasil diatasi?
  • Mengapa pendekatan yang diusulkan diperlukan?
  • Apakah perbedaan kinerja telah dievaluasi secara memadai?
  • Apakah peningkatan tersebut konsisten pada data atau kondisi pengujian yang relevan?
  • Apa pengetahuan baru yang diperoleh dari penelitian ini?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa novelty tidak cukup dijelaskan melalui angka hasil eksperimen.

Penulis perlu menghubungkan research gap, pendekatan penelitian, bukti empiris, dan kontribusi ilmiah dalam suatu argumentasi yang logis.

Apabila hubungan tersebut belum terlihat, editor mungkin kesulitan memahami alasan penelitian perlu diterbitkan.

Novelty tidak hanya berkaitan dengan apa yang berbeda, tetapi juga mengapa perbedaan tersebut memiliki arti ilmiah.

Kesulitan Menemukan Novelty Artikel?

RisetMaster.ID menyediakan kelas dan pendampingan untuk membantu peneliti menganalisis research gap, memetakan state of the art, dan memperjelas kontribusi penelitian.

Program ini dapat digunakan oleh dosen, mahasiswa pascasarjana, dan peneliti yang ingin memperkuat landasan ilmiah artikel sebelum melakukan submission berikutnya.

Pelajari Paket Kelas dan Pendampingan Novelty RisetMaster.ID

4. Perbaiki Introduction agar Editor Segera Memahami Kontribusi Penelitian

Bagian pendahuluan memiliki peran penting karena membantu editor memahami konteks, permasalahan, dan kontribusi penelitian.

Permasalahan yang sering muncul adalah pendahuluan terlalu panjang dalam menjelaskan latar belakang, tetapi tidak cukup menjelaskan posisi penelitian terhadap studi terdahulu.

Sebagai contoh, sebuah artikel tentang kecerdasan buatan untuk diagnosis penyakit menghabiskan beberapa paragraf untuk menjelaskan perkembangan artificial intelligence, machine learning, dan deep learning.

Penjelasan tersebut mungkin benar, tetapi belum menjawab persoalan penelitian yang sebenarnya.

Pendahuluan yang lebih terarah sebaiknya menjelaskan:

  1. Masalah ilmiah yang sedang diteliti.
  2. Temuan penting dari penelitian terdahulu.
  3. Keterbatasan pengetahuan atau pendekatan yang masih relevan.
  4. Pendekatan yang digunakan untuk menjawab keterbatasan tersebut.
  5. Kontribusi spesifik penelitian yang didukung oleh hasil.

Penulis juga perlu menghindari pernyataan kebaruan yang terlalu absolut, misalnya This is the first study, apabila belum memiliki bukti penelusuran literatur yang memadai.

Pendahuluan yang baik tidak harus panjang. Bagian tersebut perlu cukup lengkap untuk menjelaskan mengapa penelitian dilakukan, bagaimana penelitian diposisikan, dan apa kontribusi yang dapat dipertanggungjawabkan.

5. Periksa Kembali Metodologi dan Kekuatan Bukti Penelitian

Tidak semua penolakan dapat diselesaikan melalui perbaikan bahasa atau penyusunan ulang pendahuluan.

Apabila editor mengidentifikasi kelemahan metodologis, penulis perlu mengevaluasi kembali desain penelitian.

Untuk penelitian berbasis machine learning, misalnya, beberapa aspek yang perlu diperiksa mencakup:

  • Pembagian data latih, validasi, dan pengujian untuk mencegah data leakage.
  • Kesesuaian model pembanding atau baseline.
  • Pemilihan metrik evaluasi yang relevan dengan karakteristik masalah.
  • Analisis ketidakpastian atau variasi hasil apabila diperlukan.
  • Validasi eksternal atau pengujian generalisasi apabila menjadi bagian dari klaim penelitian.
  • Eksperimen ablasi untuk mendukung klaim mengenai kontribusi komponen model.

Jenis pemeriksaan tentu berbeda untuk penelitian kualitatif, eksperimen laboratorium, survei, atau penelitian konseptual.

Prinsip utamanya tetap sama, yaitu memastikan bahwa metode dan bukti yang disajikan cukup kuat untuk mendukung kesimpulan.

Apabila eksperimen tambahan tidak memungkinkan, penulis sebaiknya menyesuaikan ruang lingkup klaim dan menguraikan keterbatasan penelitian secara transparan.

6. Pilih Jurnal Berdasarkan Kesesuaian, Bukan Hanya Quartile

Banyak peneliti menargetkan jurnal Scopus Q1 atau Q2 karena mempertimbangkan reputasi publikasi dan kebutuhan akademik.

Target tersebut dapat dipahami. Akan tetapi, pemilihan jurnal berdasarkan quartile saja tidak cukup.

Jurnal dengan peringkat tinggi belum tentu menjadi tempat publikasi yang paling sesuai untuk suatu manuskrip.

Sebagai ilustrasi, penelitian tentang pengembangan model machine learning untuk diagnosis penyakit dapat memiliki beberapa arah kontribusi, antara lain:

  • Pengembangan algoritma atau arsitektur komputasi.
  • Pengujian metode pada permasalahan klinis.
  • Evaluasi implementasi teknologi dalam sistem pelayanan kesehatan.

Ketiga pendekatan tersebut berpotensi memiliki target jurnal yang berbeda, meskipun menggunakan dataset atau teknologi serupa.

Sebelum memilih jurnal, penulis sebaiknya membaca aims and scope, memeriksa beberapa artikel terbaru yang relevan, meninjau jenis manuskrip yang diterima, serta memastikan status indeksasi jurnal melalui sumber resmi.

Pemilihan target yang tepat dapat mengurangi risiko penolakan akibat ketidaksesuaian ruang lingkup, meskipun tidak menjamin penerimaan artikel.

7. Lakukan Pre-Submission Review Sebelum Mengirim Ulang Artikel

Langkah terakhir adalah melakukan pemeriksaan menyeluruh sebelum mengirim artikel ke jurnal berikutnya.

Pemeriksaan ini sebaiknya tidak hanya berfokus pada kesalahan tata bahasa.

Penulis perlu mengevaluasi apakah judul, abstrak, pendahuluan, metode, hasil, dan kesimpulan menyampaikan kontribusi penelitian secara konsisten.

Gunakan pertanyaan berikut sebagai pemeriksaan akhir:

  • Apakah judul sudah mencerminkan kontribusi utama penelitian?
  • Apakah abstrak menjelaskan masalah, metode, hasil, dan kesimpulan secara proporsional?
  • Apakah research gap didukung oleh literatur yang relevan?
  • Apakah novelty dijelaskan secara eksplisit?
  • Apakah hasil penelitian mendukung setiap klaim utama?
  • Apakah artikel sesuai dengan author guidelines jurnal tujuan?
  • Apakah referensi, pernyataan etika, konflik kepentingan, serta dokumen submission telah diperiksa?

Apabila penulis masih kesulitan mengidentifikasi kelemahan naskah, evaluasi dari rekan peneliti atau pendamping akademik yang memahami bidang terkait dapat membantu memperoleh perspektif tambahan.

Kapan Penulis Sebaiknya Mengajukan Banding kepada Editor?

Tidak semua keputusan penolakan perlu diajukan banding.

Banding dapat dipertimbangkan apabila penulis memiliki dasar yang jelas, seperti adanya kekeliruan faktual yang material dalam pertimbangan editor atau dugaan masalah prosedural yang dapat dibuktikan.

Penulis perlu membaca kebijakan banding jurnal terlebih dahulu, menyampaikan alasan secara profesional, dan menyediakan bukti yang relevan.

Ketidaksetujuan terhadap keputusan editor atau keinginan agar artikel dipertimbangkan kembali bukanlah alasan yang dengan sendirinya cukup untuk membenarkan banding.

Apabila alasan penolakan berhubungan dengan novelty, kualitas metodologi, atau prioritas editorial, memperbaiki manuskrip dan memilih jurnal lain sering kali menjadi opsi yang lebih produktif.

Apakah Artikel yang Pernah Ditolak Masih Bisa Diterima Jurnal Scopus?

Ya, artikel yang pernah ditolak masih dapat diterima oleh jurnal lain, sepanjang naskah memenuhi standar ilmiah, kebijakan editorial, serta ruang lingkup jurnal tujuan.

Keputusan penolakan dari satu jurnal tidak secara otomatis berlaku bagi jurnal lainnya.

Setiap jurnal memiliki pembaca, kebijakan, prioritas, dan standar evaluasi yang dapat berbeda.

Meskipun demikian, penulis tidak sebaiknya menganggap bahwa mengganti jurnal akan selalu menyelesaikan masalah. Apabila kelemahan utama berkaitan dengan validitas metode atau kontribusi ilmiah, persoalan tersebut tetap perlu ditangani.

Tujuan revisi setelah penolakan bukan sekadar mendapatkan jurnal yang bersedia menerima artikel, tetapi meningkatkan kualitas naskah dan menemukan media publikasi yang paling sesuai.

Pendampingan Artikel Scopus untuk Peneliti yang Ingin Memperbaiki Naskah

Menerima penolakan artikel dapat menjadi kesempatan untuk mengevaluasi kembali kualitas penelitian, khususnya pada bagian novelty, metodologi, argumentasi ilmiah, dan strategi pemilihan jurnal.

Akan tetapi, penulis terkadang mengalami kesulitan untuk mengetahui bagian mana yang perlu diperbaiki terlebih dahulu.

RisetMaster.ID menyediakan Paket Kelas dan Pendampingan Novelty dan Artikel Scopus untuk membantu dosen, mahasiswa S2/S3, serta peneliti mempersiapkan manuskrip dengan lebih sistematis.

Beberapa bentuk dukungan yang tersedia meliputi:

  • Pendampingan identifikasi research gap dan perumusan novelty penelitian.
  • Workshop penulisan artikel ilmiah untuk jurnal internasional terindeks Scopus.
  • Evaluasi struktur dan kesiapan manuskrip sebelum submission.
  • Pendampingan pemilihan jurnal yang relevan dengan topik dan kontribusi penelitian.
  • Persiapan dokumen submission, termasuk cover letter dan kebutuhan administratif lainnya.
  • Pendampingan memahami komentar reviewer dan memperbaiki naskah.

Pendampingan ditujukan untuk membantu memperkuat kualitas ilmiah dan kesiapan artikel. Keputusan penerimaan tetap sepenuhnya berada pada editor dan reviewer jurnal.

Artikel Anda pernah ditolak editor dan masih bingung menentukan langkah revisi berikutnya?

Pelajari program pendampingan yang tersedia dan pilih layanan sesuai kondisi manuskrip Anda.

Lihat Paket Kelas dan Pendampingan Artikel Scopus di RisetMaster.ID

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Apa yang harus dilakukan jika artikel ditolak editor jurnal?

Langkah pertama adalah membaca alasan penolakan, mengidentifikasi kelemahan utama manuskrip, dan menentukan prioritas revisi. Penulis kemudian dapat memperbaiki novelty, metodologi, atau struktur artikel sebelum memilih jurnal tujuan berikutnya.

Apa perbedaan desk rejection dan rejection setelah peer review?

Desk rejection merupakan penolakan pada tahap penilaian editorial sebelum naskah dikirim ke reviewer eksternal. Sementara itu, penolakan setelah peer review terjadi setelah naskah menjalani proses penilaian reviewer. Kedua keputusan tersebut dapat memiliki alasan dan kedalaman umpan balik yang berbeda.

Apakah artikel yang ditolak boleh dikirim ke jurnal lain?

Pada umumnya boleh, apabila keputusan penolakan sebelumnya telah final dan naskah tidak sedang menjalani proses pertimbangan pada jurnal lain. Penulis perlu memperhatikan kebijakan penerbit dan menghindari submission simultan yang tidak diperbolehkan.

Apakah artikel ditolak karena novelty kurang kuat?

Novelty yang belum jelas atau kontribusi ilmiah yang dinilai belum memadai dapat menjadi alasan penolakan. Akan tetapi, penyebab sebenarnya perlu ditentukan berdasarkan surat editor dan evaluasi menyeluruh terhadap manuskrip.

Berapa kali artikel boleh ditolak jurnal?

Tidak terdapat batas universal mengenai jumlah penolakan yang dapat dialami suatu manuskrip sebelum akhirnya diterbitkan. Penulis perlu memastikan setiap submission mematuhi kebijakan jurnal dan melakukan evaluasi substantif terhadap naskah.

Apakah pendampingan artikel Scopus menjamin artikel diterima?

Tidak. Layanan pendampingan akademik dapat membantu memperbaiki manuskrip, memperjelas kontribusi, dan menyiapkan submission. Keputusan penerimaan tetap menjadi kewenangan jurnal.

Kesimpulan

Artikel ditolak editor jurnal bukan berarti penelitian harus dihentikan. Penulis perlu memahami alasan penolakan dan mengevaluasi apakah permasalahan utama terdapat pada novelty, metodologi, penyajian, atau kesesuaian dengan jurnal.

Perbaikan yang terarah dapat membantu meningkatkan kualitas manuskrip sekaligus memperjelas strategi publikasi berikutnya.

Dalam publikasi ilmiah, tujuan peneliti bukan hanya mengirim artikel sebanyak mungkin, melainkan menghasilkan kontribusi ilmiah yang relevan, dapat dipertanggungjawabkan, dan disampaikan kepada pembaca yang tepat.

Penolakan merupakan keputusan editorial terhadap sebuah manuskrip, bukan ukuran akhir kemampuan seorang peneliti.